MAKALAH Masuknya Islam Ke Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

            Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.
            Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.
           










BAB II
PEMBAHASAN

A.     Masuknya Islam Ke Indonesia
Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke delapan masehi. Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau 1082 M. Sedangkan menurut laporan seorang musafir Maroko Ibnu Batutah yang mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya ke Negeri Cina pada 1345M, Agama islam yang bermadzhab Syafi’I telah mantap disana selama seabad. Oleh karena itu, abad XIII biasanya dianggap sebagai masa awal masuknya agama Islam ke Indonesia.
Adapun daerah pertama yang dikunjungi adalah pesisir Utara pulau Sumatera. Mereka membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak Aceh Timur yang kemudian meluas sampai bisa mendirikan kerajaan Islam pertama di Samudera pasai, Aceh Utara.
Sekitar permulaan abad XV, Islam telah memperkuat kedudukannya di Malaka, pusat rute perdagangan Asia Tenggara yang kemudian melebarkan sayapnya ke wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Pada permulaan abad tersebut, Islam sudah bisa menjejakkan kakinya ke Maluku, dan yang terpenting ke beberapa kota perdagangan di Pesisir Utara Pulau Jawa yang selama beberapa abad menjadi pusat kerajaan Hindu yaitu kerajaan Majapahit. Dalam waktu ya ng tidak terlalu lama yakni permulaan abad XVII, dengan masuk islamnya penguasa kerajaan Mataram yaitu Sulthan Agung, kemenangan agama tersebut hampir meliputi sebagian besar wilayah Indonesia.
Berbeda dengan masuknya islam ke Negara-negara di bagian dunia lainnya yakni dengan kekuatan militer, masuknya islam ke Indonesia itu dengan cara damai disertai dengan jiwa toleransi dan saling menghargai antara penyebar dan pemeluk agama baru dengan penganut-penganut agama lama (Hindu-Budha). Ia dibawa oleh pedagang-pedagang Arab dan Ghujarat di India yang tertarik dengan rempah-rempah. Masuknya Islam melalui India ini menurut sebagian pengamat, mengakibatkan bahwa islam yang masuk ke Indonesia ini bukan islam yang murni dari pusatnya di Timur Tengah, tetapi islam yang sudah banyak dipengaruhi paham mistik, sehingga banyak kejanggalan dalam pelaksanannnya .
Berbeda dengan pendapat diatas, S.M.N. Al-Attas berpendapat bahwa pada tahap pertama islam di Indonesia yang menonjol adalah aspek hukumnya bukan aspek mistiknya karena ia melihat bahwa kecenderungan penafsiran al-Quran secara mistik itu baru terjadi antara 1400-1700 M.
Akan tetapi, sejak pertengahan abad XIX, agama islam Indonesia secara bertahap mulai meninggalkan sifat-sifatnya yang sinkretik setelah banyak orang Indonesia yang mengadakan hubungan dengan Mekkah dengan cara melakukan ibadah haji. Apalagi setelah transportasi laut yang makin membaik, semakin banyaklah orang Indonesia yang melakukan ibadah haji bahkan sebagian mereka ada yang bermukim bertahun-tahun lamanya untuk mempelajari ajaran islam dari pusatnya, dan ketika kembali ke Indonesia mereka menjadi penyebar aliran islam yang ortodoks.[1]

B.     Seminar Sejarah Masuknya Islam Di Indonesia
Setiap seminar mengadakan siding-sidangnya mulai hari ahad 21 s/d 24 syawal 1382 H, ( 17 s/d 20 Maret 1963) di Medan, yaitu seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Para peserta terdiri dari beberapa negarawan, sejarawan, dan cendekiawan. Tema seminar dirumuskan dalam 2 hal pokok yaitu: Pertama tentang masuknya islam ke Indonesia,kedua tentang daerah Islam pertama di Indonesia yang menyangkut daerah/lokasi dimana Islam mula-mula tertanam. Dari hasil seminar dapat disimpulkan:
1.      Bahwa menurut sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah (abad ke 7/8 M) dan langsung dari Arab.
2.      Bahwa daerah yang pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera dan bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam yang pertama berada di Aceh.
3.      Bahwa mubaliq-mubaliq Islam pertama yang datang ke Indonesia merangkap sebagai saudagar.
4.      Bahwa penyiaran itu di Indonesia dilakukan secara damai.
5.      Bahwa Kedatangan Islam membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia dalam menahan penderitaan dan perjuangan melawan penjajahan bangsa asing.

Dr. Hamka memberi kesimpulan:
a.       Agama Islam telah berangsur datang ke tanah air kita ini sejak abad pertama (abad ke-7M) dibawa oleh saudagar-saudagar Islam yang intinya adalah orang-orang Arab diikuti oleh orang Persia dan Gujarat.
b.      Oleh karena penyebaran Islam itu tidak dijalankan dengan kekerasan dan tidak ada penaklukan negeri, maka jalannya itu adalah berangsur-angsur.
c.       Mazhab Syafi’I telah berpengaruh sejak semula perkembangan itu, sampai Raja Islam Pasai Samudera itu adalah seorang alim ahli fiqih Mazhab Syafi’i.
d.      Kedatangan ulama-ulama Islam dari luar negari ke Aceh memperteguh odeologi Mazhab Syafi’I yang telah ditanam raja-raja Pasai.
e.       Saya mengakui bahwa ulama luar yang datang kemari, disamping ada ulama kita belajar ke Mekkah, Syam, Yaman, Aden, dan lainnya.
Tapi semua itu bukanlah menghilangkan kepribadian Muslim Indonesia dalam rangka umat Islam sedunia, tetapi mengesankan kebesaran Salafussalihin Indonesia, sehingga Aceh menjadi “Serambi Mekkah”.

Haji Abubakar Aceh membuat kesimpulan:
a.       Islam masuk ke Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin di daerah lain.
b.      Penyiar Islam pertama di Indonesia tidah hanya terdiri dari saudagar India dari Gujarat, tetapi juga terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab.
c.       Diantara mazhab pertama yang dipeluk di Aceh ialah Syi’ah dan Syafi’i.[2]

Maka setelah 15 tahun sesudah seminar di Medan berlangsung atau tepatnya pada tanggal 10-16 juni 1978, majelis ulama propinsi daerah istimewa Aceh memprakarsai pula seminar serupa yaitu tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di daerah istimewa aceh yang diadakan di Banda Aceh. Seminar ini dihadiri oleh para sarjana dan cendekiawan yang berada di Aceh khususnya. Dari hasil seminar tersebut dapat disimpulkan:
1.      Pada abad pertama hijrah islam sudah masuk di Aceh
2.      Kerajaan-kerajaan Islam yang pertama adalah perlak, lamuri dan pasai
3.      Islam berkembang di Aceh melalui cara hikmah kebijaksanaan

Sebenarnya apa yang telah disimpulkan dalam ke-2 seminar tersebut diatas terutama yang menyangkut dengan proses islamisasi di Indonesia adalah juga seirama dengan pendapat 2 sarjana barat yaitu Prof. Gabriel Ferrand dan Prof. Paul Wheatly. Bersumber pada keterangan para musafir dan pedagang Arab tentang Asia Tenggara, maka ke-2 sarjana tersebut menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke-8, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Dan  bahkan pada kota-kota dagang itu telah terdapat Fondasi-fondasi para pedagang Islam. Jadi dapat ditafsirkan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia sejak awal ke-8 M, langsung dibawa oleh para pedagang dan musafir Arab.

C.     Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia
1.      Masa Kesulthanan
Untuk melihat lebih jelas gambaran keislaman di kesultanan atau kerajaan-kerajaan Islam akan di uraikan sebagai berikut.
Di daerah-daerah yang sedikit sekali di sentuh oleh kebudayaan Hindu-Budha seperti daerah-daerah Aceh dan Minangkabau di Sumatera dan Banten di Jawa, Agama Islam secara mendalam mempengaruhi kehidupan agama, sosial dan politik penganut-penganutnya sehingga di daerah-daerah tersebut agama Islam itu telah menunjukkan di dalam bentuk yang lebih murni.
Di kerajaan Banjar, dengan masuk Islamnya raja, perkembangan Islam selanjutnya tidak begitu sulit karena raja menunjangnya dengan fasilitas dan kemudahan-kemudahan lainnya dan hasilnya mebawa kepada kehidupan masyarakat Banjar yang benar-benar bersendikan Islam. Secara konkrit, kehidupan keagamaan di kerajaan banjar ini diwujudkan dengan adanya mufti dan qadhi atas jasa Muhammad Arsyad Al-Banjari yang ahli dalam bidang fiqih dan tasawuf. Di kerajaan ini, telah berhasil pengodifikasian hukum-hukum yang sepenuhnya berorientasi pada hukum islam yang dinamakan Undang-Undang Sultan Adam. Dalam Undang-Undang ini timbul kesan bahwa kedudukan mufti mirip dengan Mahkamah Agung sekarang yang bertugas mengontrol dan kalau perlu berfungsi sebagai lembaga untuk naik banding dari mahkamah biasa. Tercatat dalam sejarah Banjar, di  berlakukannya hukum bunuh bagi orang murtad, hukum potong  tangan untuk pencuri dan mendera bagi yang kedapatan berbuat zina.
Pada akhirnya kedudukan Sultan di Banjar bukan hanya pemegang kekuasaan dalam kerajaan, tetapi lebih jauh diakui sebagai Ulul amri kaum Muslimin di seluruh kerajaan itu.
Untuk memacu penyabaran agama Islam, didirikan sebuah organisasi yang Bayangkare Islah (pengawal usaha kebaikan). Itulah organisasi pertama yang menjalankan program secara sistematis sebagai berikut:
a.       Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi beberapa wilayah kerja para wali.
b.      Guna memadu penyebaran agama Islam, hendaklah di usahakan agar Islam dan tradisi Jawa didamaikan satu dengan yang lainnya.
c.         Hendaklah di bangun sebuah mesjid yang menjadi pusat pendidikan Islam.

Dengan kelonggaran-kelonggaran tersebut, tergeraklah petinggi dan penguasa kerajaan untuk memeluk agama Islam. Bila penguasa memeluk agama Islam serta memasukkan syari’at Islam ke daerah kerajaannya, rakyat pun akan masuk agama tersebut dan akan melaksanakan ajarannya. Begitu pula dengan kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaannya. Ini  seperti  ketika di pimpin oleh Sultan Agung. Ketika Sultan Agung masuk Islam, kerajaan-kerajaan yang ada di bawah kekuasaan Mataram ikut pula masuk Islam seperti kerajaan Cirebon, Priangan dan lain sebagainya. Lalu Sultan Agung menyesuaikan seluruh tata laksana kerajaan dengan istilah-istilah keislaman, meskipun kadang-kadang tidak sesuai dengan arti sebenarnya.

2.      Masa Penjajahan
Ditengah-tengah proses transformasi sosial yang relative damai itu, datanglah pedagang-pedagang Barat, yaitu portugis, kemudian spanyol, di susul Belanda dan Inggris. Tujuannya adalah menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam Indonesia di sepanjang pesisir kepulauan Nusantara ini.
Pada mulanya mereka datang ke Indonesia hanya untuk menjalinkan hubungan dagang karena Indonesia kaya akan rempah-rempah, tetapi kemudian mereka ingin memonopoli perdagangan tersebut dan menjadi tuan bagi bangsa Indonesia.
Apalagi setelah kedatangan Snouck Hurgronye yang ditugasi menjadi penasehat urusan pribumi dan Arab, pemerintah Hindia-Belanda lebih berani membuat kebijaksanaan mengenai masalah Islam di Indonesia karena Snouck mempunyai pengalaman dalam penelitian lapangan di Negeri Arab, Jawa dan Aceh. Lalu ia mengemukakan gagasannya yang di kenal dengan politik Islam di Indonesia. Dengan politik itu ia membagi masalah Islam dalam tiga kategori, yaitu:
a.       Bidang agama murni atau ibadah;
b.      Bidang sosial kemasyarakatan; dan
c.       Politik.

Terhadap bidang agama murni, pemerintah colonial memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda.
Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memamfaatkan adat kebiasaan yang berlaku sehingga pada waktu itu dicetuskanlah teori untuk membatasi keberlakuan hukum Islam, yakni teori reseptie yang maksudnya hukum Islam baru  bisa diberlakukan apabila tidak bertentangan dengan alat kebiasaan. Oleh karena itu, terjadi kemandekan hukum Islam.
Sedangkan dalam bidang politik, pemerintah melarang keras orang Islam membahas hukum Islam baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang menerangkan tentang politik kenegaraan atau ketatanegaraan.[3]

3.      Gerakan dan organisasi Islam
Akibat dari  “resep politik Islam”-nya Snouck Hurgronye itu, menjelang permulaan abad xx umat Islam Indonesia yang jumlahnya semakin bertambah menghadapi tiga tayangan dari pemerintah Hindia Belanda, yaitu: politik devide etimpera, politik penindasan dengan kekerasan dan politik menjinakan melalui asosiasi.
Untuk sementara pihak pemerintah colonial berhasil mencapai sasarannya, yakni beberapa golongan Islam dapat di pecah-belah, perlawanan dapat dipatahkan dengan kekerasan senjata, sebagian besar golongan Islam yang di pedalaman dapat terus diisolasi dalam alam ketakhayulan dan kemusyrikan, dan sebagian lagi memasuki aparatur kepegawaian colonial rendahan.
Namun, ajaran Islam pada hakikatnya terlalu dinamis untuk dapat dijinakkan begitu saja. Dengan pengalaman tersebut, orang Islam bangkit dengan menggunakan taktik baru, bukan dengan perlawanan fisik tetapi dengan membangun organisasi. Oleh karena itu, masa terakhir kekuasaan Belanda di Indonesiadi tandai dengan tumbuhnya kesadaran berpolitik bagi bangsa Indonesia, sebagai hasil perubahan-perubahan sosial dan ekonomi, dampak dari pendidikan Barat, serta gagasan-gagasan aliran pembaruan Islam di Mesir.
Akibat dari situasi ini, timbullah perkumpulan-perkumpulan politik baru dan muncullah pemikir-pemikir politik yang sadar diri. Karena persatuan dalam syarikat Islam itu berdasarkan ideologi Islam, yakni hanya orang Indonesia yang beragama Islamlah yang dapat di terima dalam organisasi tersebut, para pejabat dan pemerintahan  (pangreh praja) ditolak dari keanggotaan itu.
Persaingan antara partai-partai politik itu mengakibatkan putusnya hubungan antara pemimpin Islam, yaitu santri dan para pengikut tradisi Jawa dan abangan. Di kalangan santri sendiri, dengan lahirnya gerakan pembaruan Islam dari Mesir yang mengompromikan rasionalisme Barat dengan fundamentalisme Islam, telah menimbulkan perpecahan sehingga sejak itu dikalangan kaum muslimin terdapat dua kubu: para cendekiawan Muslimin berpendidikan Barat, dan para kiayi serta Ulama tradisional.
Selama pendudukan jepang, pihak Jepang rupanya lebih memihak kepada kaum muslimin dari pada golongan nasionalis karena mereka berusaha menggunakan agama untuk tujuan perang mereka. Oelh karena itu, ada tiga prantara politik berikut ini yang merupakan hasil bentukan pemerintah Jepang yang menguntungkan kaum muslimin.
1.      Shumubu, yaitu Kantor Urusan Agama yang menggantikan Kantor Urusan Pribumi zaman Belanda.
2.      Masyumi, yakni singkatan dari Majelis Syura Muslimin Indonesia menggantikan MIAI yang dibubarkan pada bulan oktober 1943.
3.      Hizbullah, (Partai Allah dan Angkatan Allah), semacam organisasi militer untuk pemuda-pemuda Muslimin yang dipimpin oleh Zainul Arifin.[4]

D.    Tersiarnya Islam di Indonesia
Sebelum Islam masuk ke Indonesia, agama Hindu dan  Budha telah berkembang luas di nusantara ini, disamping banyak yang masih menganut animism dan dinamisme, kedua agama itu kian lama kian pudar cahayanya dan akhirnya kedudukannya sepenuhnya diganti oleh agama Islam yang kemudian menjadi anutan 85 hingga 95% rakyat Indonesia. Sebab-sebab sangat pesat dan cepat tersiarnya Islam di Indonesia antara lain sebagai berikut:
1.      Terutama sekali faktor agama Islam (aqidah, syariah dan akhlak islam) sendiri yang lebih banyak “berbicara” kepada segenap lapisan masyarakat Indonesia.
2.      Faktor para mujtahid dakwah yang banyak terdiri atas para saudagar yang taraf kebudayaannya sudah tinggi, yang telah berhasil membawakan Islam dan segala kebijaksanaan kemahiran dan keterampilan
3.      Ajaran Islam tentang dakwah untuk menyampaikan ajaran Allah walaupun sekedar satu ayat kepada segenap manusia di seluruh pelosok bumi telah menjadikan segenap kaum muslimin menjadi umat dakwah.
4.      Baik agama Hindu maupun Budha pada umumnya dipeluk oleh orang-orang keraton yang pada saat mulai tersebarnya Islam antara raja yang satu dengan yang lainnya terlibat dalam perselisihan.
5.      Pernikahan antara para penyebar Islam dan orang-orang yang baru di islamkan melahirkan generasi pelanjut yang menganut dan menyebarkan Islam.

E.     Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia
1.      Peradaban dan Agama Masyarakat Indonesia Sebelum Kedatangan Islam
Secara geografis, wialayah Indonesia termasuk ke dalam kawasan Asia Tenggara. Masyarakat di wilayah ini telah memiliki peradaban yang tinggi sebelum kedatangn Islam. Hal itu disebabkan karena wilayah Asia Tenggara merupakan Negara-negara yang memiliki kesamaan budaya dan agama.
Bangsa Indonesia dalam sejarahnya telah mengenal tulisan yang diajarkan oleh para penyebar agama Hindu dan Budha.pengaruh ini telah berlangsung cukup lama, mungkin sejak abad ke-6 atau ke-7 M sampai abad ke-14 dan ke-15 M. pengaruh Hinduisme dan Budhisme membawa perubahan besar, terutama dalam sistem pemerintahan.
Bukti dari pengaruh agama Hindu dan Budha bagi masyarakat Indonesia dapat dilihat dari banyaknya bangunan-bangunan suci untuk peribadatan, seperti candi-candi, ukiran, dan sebagainya. Semua bangunan itu merupakan perpaduan antara seni bangunan zaman megalithicum, seperti punden berundak-undak.ukiran dan relief yang terdapat di dalamnya menggambarkan kreatifitas bangsa Indonesia.

2.      Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia dan Perkembangannya
Islam sebagai agama baru yang dianut sebagian masyarakat Indonesia, telah banyak memainkan peranan penting dalam berbagai kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Peranan itu dapat dilihat dari perkembangan Islam dan pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat luas, sehingga agak sulit untuk memisahkan antara kebudyaan local dengan kebudayaan Islam.

Masuknya kebudayaan Islam dalam kebudayaan nasional, meliputi bahasa, nama, adat istiadat dan kesenian.
a.       Pengaruh Bahasa dan Nama
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional banyak terpengaruh dari bahasa Arab. Bahasa ini sudah begitu menyatu dalam lidah bangsa Indonesia. Tidak hanya dalam bahasa komunikasi sehari-hari, bahakan dipergunakan pula dalam bahasa surat kabar, dan sebagainya.
Pengaruh Islam dalam bidang nama, sungguh banyak sekali. Banyak tokoh dan bukan tokoh masyarakat menggunakan nama berdasarkanpada bahasa Arab,yang merupakan bahasa simbol pemersatu Islam. Semua itu bukti adanya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.

b.      Pengaruh Adat Istiadat
Adat istiadat yang ada dan berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam. Diantara pengaruh itu adalah ucapan salam kepada setiap muslim yang dijumpai, atau penggunaannya dalam acara-acara resmi pemerintahan.
Pengaruh lainnya adalah berupa ucapan-ucapan kalimat penting dalam do’a. yang merupakan pengaruh dari tradisi Islam yang lestari.

c.       Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah
Pengaruh kesenian yang paling menonjol dalam hal ini terlihat dalam irama qasidah dan lagu-lagu yang bernafaskan ajaran Islam. Syair pujian yang mengagungkan nama-nama Allah yang sering diucapkan oleh umat Islam, merupakan bukti pengaruh ajaran Islam terhadap kehidupan beragama masyarakat Islam Indonesia.
Begitu pula pengaruh dalam bidang bangunan peribadatan. Banyak bangunan mesjid yang ada di Indonesia, terpengaruh dari bangunan mesjid yang ada di Negara-negara Islam, baik yang ada di Timur Tengah ataupun di tempat-tempat lainnya di dunia Islam.
d.      Pengaruh Dalam Bidang Politik
Ketika kerajaan-kerajaan Islam mengalami masa kejayaannya, banyak sekali undur politik Islam yang berpengaruh dalam system politik pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam tersebut. Misalnya tentang konsep khalifatullah fil ardi dan dzilullah fil ardi. Kedua konsep ini diterapkan pada masa pemerintahan kerajaan Islam Aceh Darussalam dan kerajaan Islam Mataram.[5]

F.      Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
Dalam perkembangan selanjutnya, Islam menempati posisi penting dalam percaturan sosial ekonomi dan sekaligus percaturan politik. Kekuatan sosial politik itu semakin mantap ketika lahirnya lembaga-lembaga politik, seperti kerajaan-kerajaan Islam. Di antara kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia adalah:
a.       Kerajaan Islam Samudra Pasai
b.      Kerajaan Islam Aceh Darussalam
c.       Kerajaan Islam Demak
d.      Kerajaan Islam Pajang
e.       Kerajaan Islam Mataram
f.        Kerajaan Islam Cirebon
g.       Kerajaan Islam Banten
h.       Kerajaan Islam di Kalimantan
i.         Kerajaan Islam di Sulawesi[6]

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
      Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan sebagai berikut:
-         Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke delapan masehi. Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau 1082 M.
-         Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia
-            Masa Kesulthanan
-            Masa Penjajahan
-            Gerakan dan organisasi Islam
-           Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia dan Perkembangannya
Perkembangan Islam dan pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat luas, adapun pengaruhnya yaitu:
-         Pengaruh Bahasa dan Nama
-         Pengaruh Adat Istiadat
-         Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah
-         Pengaruh Dalam Bidang Politik

B.     Saran
            Demikian pembahasan dari makalah kami. Kami berharap semoga pembahasan dalam makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca. Dan kami pun berharap pula kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan dalam tugas kami selanjutnya. Sekian dan terima kasih.





DAFTAR PUSTAKA

Suminto, Aqid., Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: Pustaka LP3ES.

Thohir, Ajid., Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, cet.1, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990.

Murodi,  Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994.




[1] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 292
[2] A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, cet.1, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990), hlm. 3-4.
[3] Aqid Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: Pustaka LP3ES), hlm. 6-10.
[4] Ajid Thohir, …, hlm.303.
[5] Murodi,  Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994), hlm.122-124.
[6]  Murodi,…,hlm.114-121.

PROPOSAL MENINGKATKAN EFEKTIVITAS HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VI SD NEGERI SINDANGSARI 4 KECAMATAN CIGEDUG KABUPATEN GARUT DALAM MENENTUKAN VOLUM BANGUN RUANG MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA KUBUS SATUAN



HASANUDIN

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memperlukan usaha dan dana yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Demikian halnya dengan Indonesia menaruh harapan besar terhadap pendidik dalam perkembangan masa depan bangsa ini, karena dari sanalah tunas muda harapan bangsa sebagai generasi penerus dibentuk.
Meski diakui bahwa pendidikan adalah investasi besar jangka panjang yang harus ditata, disiapkan dan diberikan sarana maupun prasarana dalam arti modal material yang cukup besar, tetapi sampai saat ini Indonesia masih berkutat pada problematika klasik yaitu kualitas pendidikan. Problematika ini setelah dicoba dicari akar permasalahannya seperti sebuah mata rantai yang melingkar dan tidak tahu dari mana mesti harus diawali.
Mata pelajaran matematika di Sekolah Dasar merupakan mata pelajaran yang dianggap paling sulit oleh peserta didik, akibatnya nilai yang didapat sangat rendah dan miskin, padahal pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan kepada peserta didik sejak SD hingga SMA. Alokasi waktu mata pelajaran matematika pun cukup banyak dibanding dengan mata pelajaran lainnya. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kemampuan baca tulis dan berhitung bagi peserta didik di tingkat SD merupakan syarat naik ke kelas VI. Di sisi lain, matematika merupakan mata pelajaran yang melatih anak untuk berpikir rasional, logis, cermat, jujur, dan sistematis. Pola pikir yang demikian sebagai sesuatu yang perlu dimiliki peserta didik sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari. Penerapannya pun akan membantu manusia dalam memecahkan masalah kehidupan dalam berbagai kebutuhan.
Melihat kondisi tersebut, maka matematika dianggap sebagai materi yang sangat penting. Namun matematika masih kurang diminati peserta didik baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA. Hal itu perlu perhatian guru untuk memperbaiki metode serta pendekatan dalam belajar mengajar sehingga peserta didik merasa senang dan termotivasi untuk belajar matematika.
Sebagaimana yang terjadi di kelas VI SD Negeri Sindangsari 4 Kecamatan Cigedug, indikasi hasil belajar peserta didik mata pelajaran matematika menunjukkan urutan terbawah dibanding mata pelajaran lain. Diketahui bahwa pada pokok bahasan Volum Bangun Ruang, hasil ulangan harian selama dua kali, hasilnya baru mencapai rata-rata kelas 5,6, hal tersebut masih sangat perlu diupayakan peningkatannya.
Menurut hasil analisis ulangan harian pada tahun-tahun sebelumnya, diketahui bahwa pada tahun pelajaran 2008-2009 hasil belajar peserta didik pada pokok bahasan tersebut baru mencapai rata-rata 5,4 dan tahun 2009-2010 meningkat menjadi 5,6. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ada kesulitan yang cukup berarti bagi peserta didik kelas VI dalam memecahkan dan menyelesaikan soal pokok bahasan volum bangun ruang, maka guru perlu mengusahakan berbagai upaya untuk meningkatannya. Salah satu upaya yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik adalah melalui penggunaan alat peraga. Penggunaan alat peraga diharapkan dapat meningkatkan, membantu, dan memperjelas konsep-konsep abstrak agar menjadi konkret. Alat peraga akan menstimuli minat sekaligus mempercepat proses pemahaman peserta didik dalam pembelajaran, proses pemahaman pun akan lebih cepat dan meningkat ketika mendapkan hal-hal yang abstrak dan sulit dimengerti. Kebaikan alat peraga bagi pembelajaran juga membuatnya lebih bersemangat karena dengan pola-pola belajar yang bervariatif. Pembelajaran dengan alat peraga mudah dicerna dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat verbalistik. Alat peraga yang tepat untuk menerangkan volum bangun ruang diantaranya kubus satuan. Alat peraga tersebut menjadikan anak akan mampu memecahkan masalah melalui pengamatan, penganalisisan, dan pembuktian secara terpadu.
Bertitik tolak pada latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tindakan kelas untuk mengkaji lebih mendalam yang dirumuskan dalam judul “Meningkatkan Efektivitas Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VI SD Negeri Sindangsari 4 Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut dalam Menentukan Volum Bangun Ruang melalui Penggunaan Alat Peraga Kubus Satuan”.
Adapun alasan peneliti tertarik memilih judul tersebut berlandaskan pada pertimbangan sebagai berikut ini.
1.      Peneliti sebagai guru kelas VI SD Negeri Sindangsari 4 merasa perlu untuk meningkatkan proses belajar peserta didik mata pelajaran matematika.
2.      Peneliti sebagai guru kelas VI SD Negeri Sindangsari 4 merasa perlu untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pokok bahasan tersebut yang nilai rata-ratanya baru mencapai 5,6.
3.      Peneliti bertujuan untuk meningkatkan proses belajar dan hasil belajar matematika dengan mengupayakan pengadaan alat peraga buatan peneliti bersama peserta didik serta menggunakannya dengan tepat dan optimal.

B.     Perumusan Masalah
Agar penelitian dapat terlaksana secara efektif dan sistematis, maka haruslah permasalahan dirumuskan terlebih dahulu. Menurut Sukidin, dkk. (2008:67) melalui perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi peneliti untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solution) yang perlu dilakukan, jenis data yang dikumpulkan, prosedur, serta cara menginterpretasikannya.
Memperhatikan pendapat tersebut dan latar belakang masalah di atas, permasalah yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut ini.
1.      Apakah dengan menggunakan alat peraga kubus satuan dapat meningkatkan   proses belajar siswa dalam menentukan volum bangun ruang?
2.      Apakah penggunaan alat peraga kubus satuan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Sindangsari 4 Kecamatan Cigedug dalam menentukan volum bangun ruang?

C.    Cara Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pembelajaran dengan menggunakan alat peraga kubus satuan. Dengan sistem ini diharapkan partisipasi kontributif dan inisiatif siswa dalam bentuk kemampuan mengidentifikasi, memecahkan, dan memahami cara pengerjaan penghitungan volum bangun ruang dapat lebih mudah dan efektif. Selain itu juga, proses pembelajaran serta hasil belajar diharapkan dapat meningkat.

D.    Tujuan Penelitian
Suatu penelitian dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam penelitian ini, tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut ini.
1.      Untuk meningkatkan proses belajar siswa kelas VI SD Negeri Sindangsari 4 Kecamatan Cigedug dalam menentukan volum bangun ruang.
2.      Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Sindangsari 4 Kecamatan Cigedug dalam menentukan volum bangun ruang.

E.     Manfaat Penelitian
Pasca penelitian diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara teoretik maupun praktik. Manfaat-manfaat tersebut adalah sebagai berikut ini.
1.      Proses pembelajaran matematika di kelas tidak lagi berjalan monoton.
2.      Ditemukan strategi pembelajaran yang tepat.
3.      Metode yang digunakan bersifat tidak lagi konvensional, tetapi lebih variatif.
4.      Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas mandiri, kelompok, baik terstruktur maupun tidak terstruktur dapat meningkat.
5.      Kualitas pembelajaran matematika meningkat.

F.     Kerangka Teoretis dan Hipotesis Tindakan
1.      Kerangka Teoretis
a)      Hakikat pembelajaran matematika
Mata pelajaran matematika berkaitan erat dengan kemampuan-kemampuan siswa terhadap pemahaman struktur dasar sistem bilangan daripada mempelajari keterampilan dan fakta-fakta hafalan. Pelajaran matematika sesuai dengan kurikulum SD tahun 2004 menekankan mengapa dan bagaimana matematika melalui penemuan dan eksplorasi. Kline (dalam Simanjuntak, dkk., 1993:64) menyebutkan bahwa jatuh bangunnya suatu negara dewasa ini tergantung dari kemajuan di bidang matematika. Melihat pendapatnya, negara membutuhkan orang-orang yang pandai di bidangnya. Salah satunya dibuktikan adanya pembelajaran matematika sekolah menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (dalam Diknas, 2006:1) bertujuan untuk mengembangkan matematika dengan harapan tercapainya hal-hal sebagai berikut ini.
(a)    Menunjukkan pemahaman konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
(b)   Mempunyai kemampuan pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan, dan pernyataan matematika.
(c)    Mempunyai sikap menghargai kegunaan metematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tau, perhatian, minat dalam mempelajari matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

b)      Belajar
Tujuan pembelajaran matematika dapat dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang dapat dibuktikan dalam proses belajar. Belajar merupakan suatu proses perubahan. Gagne dan Berliner (dalam Anni, 2004:2) berpendapat bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Morgan berpendapat bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman. Menurut Slavin, belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Sejalan dengan pakar-pakar di atas, Gagne pun mengemukakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia, yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan (dalam Anni, 2004:2). Pengertian tersebut tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga unsur utama, yaitu: (a) belajar berkaitan dengan perubahan perilaku; (b) perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman; (c) perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen.
Pengertian belajar pada dasarnya adalah berusaha mendapatkan sesuatu kepandaian (Poerwadarminta,1988:108). Sedangkan menurut istilah populer bahwa pengertian belajar adalah proses perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai bentuk pengalaman-pengalaman atau praktik (David dalam IKIP Semarang, 1996:2). Dalam penelitian ini, belajar yang dimaksud adalah suatu proses perubahan dari kurang baik menjadi lebih baik dalam mempelajari pelajaran matematika berupa hasil yang diperolehnya.
Saat proses belajar berlangsung, terkadang siswa bosan dengan pembelajaran yang monoton tanpa adanya variasi yang menstimuli pemikiran mereka untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Proses belajar merupakan mengubah atau memperbaiki tingkah laku melalui latihan, pengalaman dan kontak dengan lingkungannya (Simanjuntak, dkk., 1993:2). Untuk dapat meningkatkan prestasi dan hasil belajar yang optimal. Menurut Simanjuntak, dkk., (1993:52) adalah dengan adanya proses belajara yang efektif. Untuk mengefektifkannya, maka harus diterapkan berbagai upaya yang dapat meningkatkan gairah belajar mereka. Salah satu rangsangan itu dapat dilakukan melalui alat peraga sebagai alat bantu pembelajarannya. Selain itu, Simanjuntak, dkk., (1993:76) menegaskan bahwa salah satu faktor pendukung berhasil tidaknya pembelajaran matematika adalah dengan menguasai teori belajar mengajar matematika. Hal itu pun diperlukannya suatu orientasi kesiapan siswa untuk belajar, kemudian perlu adanya suatu teknik dan orientasi yang pada hierarkinya dengan cara membilah-bilah lebih lanjut (Gagne dalam Simanjuntak, dkk., 1993:79). Maksud pendapa tersebut yaitu perlu adanya pemahaman dari setiap elemen dalam materi yang dajarkan. Hal ini akan meningkatkan baik stimulus, respons, serta konsep-konsep yang ada di dalamnya.
c)      Hasil belajar
Hasil belajar merupakan bukti otentik sejauh mana proses pembelajaran tercapai. Hasil belajar diartikan sebagai keberhasilan usaha yang dapat dicapai (Winkel,1998:162). Hasil belajar merupakan keberhasilan yang telah dirumuskan guru berupa kemampuan akademik. Surachmad (1981:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan nilai hasil yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Hasil belajar meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor (Sunaryo,1983:4). Hal tersebut berarti hasil belajar yang merupakan hasil dari proses belajar.
d)     Alat peraga
Dalam menghitung volum balok, siswa terdeteksi mengalami kesulitan sehingga mereka enggan belajar. Peserta didik tidak mengerti dan kurang memahami terhadap materi yang disampaikan. Dengan alasan itu, dalam penelitian ini alat peraga menjadi pendukung yang sangat aktif untuk menumbuhkan sikap peserta didik sehingga mampu tenggelam dalam suasana yang ramah, nyaman, dan menyenangkan sehingga proses pembelajaran akan berlangsung efektif, dan materi pun dapat diterima dengan mudah.
Dalam praktik kegiatan pendidikan, alat peraga sering pula disebut dengan media pembelajaran. Oleh karena itu, dalam hal ini peneliti tidak akan mempersoalkan penggunaan istilah tersebut. Secara harfiah kata media memiliki arti “perantara” atau “pengantar” atau peraga (Depag RI, 2004:11). Alat peraga digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, maka hasil belajar menjadi lebih berkualitas. Alat bantu ini memiliki fungsi untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan sehingga berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan siswa karena melalui penggunaan alat peraga, siswa dapat mengamati, menaksir, dan meramalkan berbagai hal baik melalui indera penglihat, peraba, maupun pendengar. Keterlibatan alat-alat indera dapat menggairahkan siswa dalam belajar sehingga akan mudah terangsang untuk mencoba melakukan sesuatu hal yang diperlukan.
2.      Hipotesis tindakan
Penelitian ini direncanakan ke dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur perencanaan (planning), tindakan (ackting), pengamatan (observer), dan refleksi (reflecting). Melalui tiga siklus tersebut dapat diamati peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut ini.
a)       Proses belajar siswa pada pembelajaran penghitungan volum bangun ruang dapat meningkat setelah menggunakan alat peraga kubus satuan.
b)      Hasil belajar siswa pada pembelajaran penghitungan volum bangun ruang dapat meningkat setelah menggunakan alat peraga kubus satuan.

G.    Rencana dan Prosedur Penelitian
1.      Lokasi
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Sindangsari 4 Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut yaitu pada seluruh siswa kelas VI yang yang berjumlah 28 anak, terdiri dari 11 siswa putri dan 17 siswa putra. Penelitian ini dilaksanakan pada jam pelajaran mata pelajaran matematika.
2.      Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan tiga siklus dan masing-masing siklus meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu suatu putaran kegiatan beruntun, yang kembali ke langkah semula. Jadi, satu siklus adalah dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi.
Berikut ini adalah gambar alur siklus tindakan kelas yang dipakai dalam Penelitian Tindakan Kelas ini.
Bagan 1
 ALUR SIKLUS TINDAKAN KELAS
 







                                             






Skematik kegiatan inti penelitian, dengan perubahan oleh peneliti (Aqib, 2006:36).
Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai siklus. Oleh karena itu, pengertian siklus pada hal ini ialah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

1)      Siklus 1
(a)    Perencanaan

(1)   Dokumentasi kondisional meliputi data hasil ulangan pokok bahasan menentukan volum kubus, dan observasi guru terhadap pembelajaran matematika yang akan berlangsung.
(2)   Identifikasi masalah Identifikasi dan klarifikasi semua masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
(3)   Merancang rencana pembelajaran.
(b)   Tindakan
(1)   Guru menyiapkan rencana pengajaran.
(2)   Guru memberikan soal-soal pada siswa.
(3)   Guru mengevaluasi tingkat daya serap siswa terhadap proses pembelajaran.
(4)   Guru merencanakan pembelajaran dengan menerangkan materi tentang pokok bahasan volum kubus dilanjutkan dengan memberikan contoh-contoh soalnya.
(5)   Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran seperti bertanya, mengungkapkan pendapat, diskusi dan lain sebaginya.
(6)   Guru memberikan soal-soal latihan setiap akhir pertemuan.
(7)   Guru memberikan soal-soal tes pada akhir siklus 1.
(c)    Pengamatan
Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengumpulkan data aktivitas pembelajaran, baik data pembelajaran (guru) maupun data pembelajaran siswa. Peneliti menyiapkan angket observasi yang dilakukan dengan data pengukur.
(d)   Refleksi
Data dikumpulkan kemudian direfleksi oleh peneliti. Refleksi dilakukan dengan cara mengukur baik cara kuantitatif maupun kualitatif. Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian disimpulkan bagaimana hasil belajar siswa dan bagaimana hasil pembelajaran guru yang teah dilakukan, kemudian direfleksikan berupa hasil analisis yang telah dikerjakan.
(1)   Apakah terjadi peningkatan kualitas belajar sebelum diterapkan pembelajaran dengan alat peraga?
(2)   Apakah alat peraga yang dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman siswa konsep bangun ruang?
(3)   Berapakah jumlah siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar setelah dilakukan pembelajaran dengan alat peraga?
(4)   Sudahkah mencapai target yang diinginkan sesuai dengan yang diharapkan guru?
(5)   Sudahkah guru menerapkan struktur pengajaran matematika yang baik?
(6)   Sudahkah guru mengadakan pendekatan kepada siswa dengan baik dan menggunakan alat peraga kubus satuan?
2)      Siklus 2
(a)    Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1, maka diadakan perencanaan sebagai berikut ini.
(2)   Identifikasi masalah
Masalah siklus 1 yang belum berhasil pada pokok bahasan volum kubus.
(3)   Rencana tindakan
Penerapan pembelajaran dengan meningkatkan efektifitas penggunaan alat peraga harus lebih ditekankan lagi agar lebih mengoptimalkan keaktifan siswa.
(b)   Tindakan
(1)   Guru melakukan semua tindakan sebagaimana pada siklus I.
(2)   Guru memberikan soal-soal latihan.
(3)   Menjelaskan materi lanjutan dengan alat peraga yang lebih banyak dan variatif.
(4)   Mengadakan Tes akhir siklus II.
(c)    Pengamatan
Pelaksanaan atau tindakan siklus 2 sesuai dengan perencanaan yang diprogramkan yaitu:
(1)   Atas dasar hasil siklus 1, maka permasalahan dapat diidentifikasi dan dirumuskan.
(2)   Mengontrol siswa yang kurang aktif dengan cara mengadakan pendekatan dan bimbingan khusus.
(3)    Guru menerangkan kembali materi yang kurang dipahami siswa dengan contoh-contoh soalnya secara sistematis.
(4)   Merencanakan kembali pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam pembelajaran konsep bangun ruang.
(5)   Siswa diberi soal-soal latihan untuk dibahas kembali.
(6)   Guru memberikan soal-soal tes pada akhir siklus 2.
(d)   Refleksi
Peneliti merefleksi semua tindakan pada siklus 1 dan siklus 2, kemudian melakukan refleksi terhadap tindakan kelas yang telah dilaksanakan. Refleksi terhadap keberhasilan siklus I dan II, kemudian tindakan apa yang perlu dilakukan pada siklus III selanjutnya.

2)      Siklus 3
(a)    Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II, maka diadakan perencanaan yang meliputi:
(1)   Identifikasi masalah
Masalah siklus II yang belum berhasil pada pokok bahasan tersebut. Kesulitan yang dihadapi siswa dan kegairahan siswa dalam pembelajaran.
(2)   Rencana tindakan
Penerapan pendekatan keterampilan proses menggunakan alat peraga kubus satuan harus lebih ditekankan lagi terutama keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.
(b)   Tindakan
(1)   Guru melakukan semua tindakan pada siklus II.
(2)   Guru memberikan soal-soal latihan.
(3)   Menjelaskan materi lanjutan dengan alat peraga yang lebih banyak dan variatif terutama soal latihan pada siklus II di mana item soal mana yang dianggap paling sulit.
(4)   Mengontrol siswa yang kurang aktif dengan cara mengadakan pedekatan dan bimbingan khusus dan yang pandai diberikan pengayaan materi dalam pembelajaran.
(5)   Guru menerangkan kembali materi yang kurang dipahami pada siklus II dengan contoh-contoh soalnya berikut contoh pengerjaannya.
(6)   Memastikan keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam pembelajaran konsep menentukan volum kubus.
(7)   Siswa diberi soal-soal latihan untuk dibahas kembali.
(8)   Guru memberikan soal-soal tes pada akhir siklus III.
(c)    Pengamatan
Peneliti melakukan tindakan pada siklus III untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan siklus yang sedang berlangsung.
(d)   Refleksi
Peneliti merefleksi semua tindakan pada siklus I, II dan siklus III, kemudian melakukan refleksi dengan pendekatan yang dilakukan dalam tindakan kelas. Refleksi terhadap keberhasilan siklus I, II dan III, kemudian tindakan apa yang perlu dilakukan pada siklus selanjutnya sebagai refleksi siklus selanjutnya jika memungkinkan, namun penelitian tindakan ini direncanakan dan dibatasi sampai pada siklus III.